Duta Ilmu Logo

MENELUSURI AKAR PEMIKIRAN DAN STRATEGI DAKWAH: BEDAH TUNTAS BUKU "DAKWAH ASWAJA AN NAHDLIYYAH SYAIKH AHMAD MUTAMAKKIN"

5 November 2026|Comments Off
MENELUSURI AKAR PEMIKIRAN DAN STRATEGI DAKWAH: BEDAH TUNTAS BUKU "DAKWAH ASWAJA AN NAHDLIYYAH SYAIKH AHMAD MUTAMAKKIN"

Di tengah arus globalisasi dan gempuran berbagai ideologi keagamaan yang kian beragam, pencarian jati diri keislaman yang moderat dan berakar pada tradisi menjadi sebuah keniscayaan. Bagi masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya kaum Nahdliyyin, konsepsi Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) bukan sekadar label teologis, melainkan sebuah manhaj al-fikr (kerangka berpikir) dan manhaj al-harakah (kerangka bergerak). Salah satu sosok sentral yang menjadi pilar intelektual dan spiritual dalam sejarah dakwah Islam di tanah Jawa adalah Syaikh Ahmad Mutamakkin.

Hadirnya buku berjudul "DAKWAH ASWAJA AN NAHDLIYYAH Syaikh Ahmad Mutamakkin" menjadi sebuah oase bagi mereka yang ingin mendalami bagaimana Islam mampu meresap ke dalam sumsum kebudayaan Nusantara tanpa kehilangan esensi tauhidnya. Buku ini bukan sekadar biografi tokoh, melainkan sebuah analisis mendalam mengenai strategi dakwah kultural yang sangat relevan dengan tantangan zaman modern. Melalui karya ini, pembaca diajak untuk menyelami dunia pemikiran sang Syaikh yang penuh dengan simbolisme, kedalaman tasawuf, dan keberanian intelektual dalam menghadapi otoritas pada masanya.

Profil Syaikh Ahmad Mutamakkin: Sang Sufi dari Kajen

Syaikh Ahmad Mutamakkin, atau yang akrab dikenal sebagai Mbah Mutamakkin, adalah ulama kharismatik yang hidup pada abad ke-17 hingga ke-18 di Desa Kajen, Pati, Jawa Tengah. Beliau dikenal sebagai seorang waliyullah yang memiliki pengaruh besar tidak hanya di wilayah Karesidenan Pati, tetapi juga di seluruh tanah Jawa. Jejak sejarahnya terekam kuat dalam berbagai tradisi lisan maupun manuskrip kuno, salah satunya yang paling terkenal adalah Serat Cabolek.

Buku ini memulai narasinya dengan membedah latar belakang kehidupan Syaikh Mutamakkin. Ia bukan hanya seorang ahli fikih, melainkan juga seorang penempuh jalan spiritual (sufi) yang mencapai derajat makrifat. Nama "Mutamakkin" sendiri secara harfiah berarti "orang yang memiliki keteguhan" atau "orang yang telah mencapai maqam yang mapan". Keteguhan inilah yang menjadi fondasi utama dakwahnya: teguh dalam prinsip syariat, namun lentur dalam pendekatan sosial-budaya.

Penulis buku ini berhasil memotret sosok Syaikh Mutamakkin sebagai representasi awal dari karakter "Aswaja An-Nahdliyyah" sebelum organisasi Nahdlatul Ulama berdiri secara formal. Karakter tersebut tercermin dalam sikap moderat (tawassut), seimbang (tawazun), toleran (tasamuh), dan tegak lurus (i’tidal). Syaikh Mutamakkin menjadi jembatan antara teks-teks klasik Arab dengan realitas sosiologis masyarakat Jawa yang saat itu masih kental dengan pengaruh Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal.

Filosofi Dakwah Kultural: Antara Syariat dan Kearifan Lokal

Salah satu inti sari dari buku ini adalah pembahasan mengenai metode dakwah kultural Syaikh Ahmad Mutamakkin. Di era tersebut, tantangan terbesar bagi para pendakwah adalah bagaimana menyampaikan pesan Islam yang murni kepada masyarakat yang sudah memiliki tatanan budaya yang mapan. Syaikh Mutamakkin tidak memilih jalur konfrontatif, melainkan jalur integratif.

Buku ini mengeksplorasi bagaimana Syaikh Mutamakkin menggunakan simbol-simbol budaya sebagai media dakwah. Salah satu yang paling fenomenal adalah penafsirannya terhadap kisah Dewa Ruci. Dalam perspektif Syaikh Mutamakkin, simbolisme pencarian air perwitasari oleh Bima ditransformasikan menjadi sebuah perjalanan spiritual seorang hamba menuju Tuhannya (manunggaling kawula gusti dalam makna yang syar'i). Penggunaan metafora budaya ini memungkinkan ajaran tasawuf yang kompleks menjadi lebih mudah diterima oleh masyarakat awam.

Pendekatan ini kemudian dikenal sebagai "Pribumisasi Islam", sebuah konsep yang di kemudian hari dipopulerkan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Syaikh Mutamakkin membuktikan bahwa menjadi Muslim yang taat tidak berarti harus mencabut diri dari akar budaya Jawa. Sebaliknya, budaya dijadikan sebagai "baju" bagi nilai-nilai Islam. Inilah yang menjadi ruh dari dakwah Aswaja An-Nahdliyyah: sebuah keberagaman yang harmonis, di mana agama memberi warna pada budaya, dan budaya menjadi ruang bagi syiar agama.

Analisis Manuskrip: Menyingkap Tabir Sejarah

Kekuatan utama dari buku "DAKWAH ASWAJA AN NAHDLIYYAH Syaikh Ahmad Mutamakkin" terletak pada metodologi penelitiannya yang berbasis pada telaah kritis manuskrip. Penulis tidak hanya mengandalkan mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat, tetapi juga merujuk pada naskah-naskah kuno seperti Serat Cabolek dan Suluk Mutamakkin.

Dalam naskah-naskah tersebut, seringkali digambarkan terjadinya konflik intelektual antara Syaikh Mutamakkin dengan para ulama keraton (formalitas legalistik). Buku ini membedah konflik tersebut secara objektif. Konflik itu sejatinya bukan mengenai perbedaan akidah, melainkan perbedaan sudut pandang dalam memandang hubungan antara syariat dan hakikat. Bagi Syaikh Mutamakkin, syariat tanpa hakikat adalah hampa, sementara hakikat tanpa syariat adalah sesat. Keseimbangan inilah yang ia perjuangkan.

Melalui analisis teks, buku ini juga mengungkap bagaimana Syaikh Mutamakkin menghadapi tuduhan-tuduhan miring dari pihak lawan politik maupun agama pada masanya. Ketajaman argumen Syaikh Mutamakkin yang tercermin dalam naskah-naskah sejarah menunjukkan tingkat intelektualitas yang luar biasa. Ia adalah seorang pemikir bebas yang tetap patuh pada koridor Ahlussunnah wal Jama'ah. Bagian ini sangat penting bagi pembaca modern untuk memahami bahwa perdebatan pemikiran adalah hal yang lumrah dalam sejarah intelektual Islam Nusantara.

Aswaja An-Nahdliyyah: Relevansi dengan Tantangan Zaman Modern

Mengapa pemikiran Syaikh Ahmad Mutamakkin masih relevan dibahas hari ini? Penulis buku ini memberikan jawaban yang sangat meyakinkan. Saat ini, dunia Islam, termasuk Indonesia, sedang dihadapkan pada dua kutub ekstrem: liberalisme yang kebablasan dan konservatisme-radikal yang kaku.

Model dakwah Syaikh Mutamakkin menawarkan jalan tengah (via media). Prinsip inklusivitas yang ia terapkan ratusan tahun lalu menjadi kunci dalam menjaga persatuan bangsa di tengah kemajemukan. Buku ini menegaskan bahwa nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyyah—seperti menghargai tradisi (al-muhafadzatu ‘ala qadimis shalih) sambil terus melakukan inovasi yang lebih baik (wal akhdzu bil jadidil ashlah)—adalah modal sosial yang sangat besar bagi bangsa Indonesia.

Syaikh Mutamakkin mengajarkan bahwa dakwah bukan hanya soal mengajak orang masuk Islam, tetapi juga soal bagaimana Islam bisa menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin). Dalam konteks kekinian, ini berarti Islam harus mampu memberikan solusi atas masalah kemiskinan, ketidakadilan, dan kerusakan lingkungan. Pemikiran beliau yang humanis dan transformatif menjadikan buku ini sebagai panduan strategis bagi para penggerak dakwah masa kini untuk tidak terjebak dalam formalisme semu.

Warisan Pendidikan: Ekosistem Pesantren Kajen

Dampak nyata dari dakwah Syaikh Ahmad Mutamakkin dapat dilihat dari eksistensi Desa Kajen saat ini. Desa yang terletak di Kabupaten Pati ini telah bertransformasi menjadi "Kota Santri" dengan puluhan pesantren yang berdiri di sana. Buku ini menjelaskan bagaimana model pendidikan yang dirintis oleh Syaikh Mutamakkin menjadi cikal bakal sistem pendidikan pesantren yang egaliter dan terbuka.

Di Kajen, semangat keilmuan Syaikh Mutamakkin terus dijaga oleh para keturunan dan murid-muridnya. Pesantren-pesantren di sana tidak hanya mengajarkan kitab kuning secara tekstual, tetapi juga menekankan pada pembentukan karakter (akhlaqul karimah) dan kemandirian berpikir. Tradisi ziarah ke makam Syaikh Mutamakkin yang tak pernah sepi setiap tahunnya merupakan bentuk penghormatan sekaligus upaya "ngalap berkah" atas ilmu dan perjuangan beliau.

Penulis buku menggambarkan Kajen sebagai laboratorium hidup dari ajaran Aswaja An-Nahdliyyah. Di sana, masyarakat hidup berdampingan dengan damai, menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, dan memiliki etos kerja yang kuat. Ini adalah bukti nyata bahwa dakwah yang dilakukan dengan hati dan pendekatan budaya akan menghasilkan peradaban yang langgeng, bukan sekadar hiruk-pikuk sesaat.

Kritik dan Refleksi: Membaca Syaikh Mutamakkin secara Utuh

Buku ini juga mengajak pembaca untuk melakukan refleksi kritis. Syaikh Ahmad Mutamakkin bukanlah sosok yang lepas dari kontroversi, terutama jika dilihat dari kacamata hukum fikih yang kaku pada zamannya. Namun, buku ini mendudukkan kontroversi tersebut dalam ruang lingkup ijtihad intelektual dan pengalaman sufistik.

Pelajaran penting yang bisa dipetik adalah perlunya kelapangan dada dalam menerima perbedaan pendapat (ikhtilaf). Syaikh Mutamakkin menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu bersifat tunggal dalam tataran implementasi sosial, asalkan tetap bersandar pada prinsip-prinsip dasar agama. Keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran, meskipun harus berhadapan dengan penguasa, memberikan inspirasi bagi kaum Nahdliyyin untuk selalu menjadi watchdog bagi keadilan sosial.

Buku ini juga mengingatkan bahwa "Aswaja" bukanlah barang mati yang hanya disimpan dalam museum sejarah. Ia adalah entitas yang hidup dan terus berkembang. Mempelajari Syaikh Mutamakkin berarti mempelajari bagaimana mengontekstualisasikan Islam di setiap ruang dan waktu. Tantangan dakwah di era media sosial hari ini memerlukan kreativitas yang sama seperti yang ditunjukkan Syaikh Mutamakkin saat menggunakan wayang dan serat-serat Jawa di masa lalu.

Kesimpulan: Sebuah Rujukan Wajib bagi Generasi Muda Islam

Sebagai sebuah karya literatur, buku "DAKWAH ASWAJA AN NAHDLIYYAH Syaikh Ahmad Mutamakkin" berhasil menyatukan kepingan sejarah, filosofi teologis, dan panduan praktis dakwah dalam satu kesatuan yang utuh. Narasi yang dibangun sangat mengalir, didukung oleh data primer yang kuat, sehingga pembaca seolah diajak berdialog langsung dengan sang Syaikh di serambi masjid Kajen.

Bagi kaum Nahdliyyin, buku ini adalah kunci untuk memahami silsilah intelektual dan spiritual mereka. Namun, bagi masyarakat umum, buku ini menawarkan perspektif segar tentang bagaimana Islam bisa menjadi agama yang damai, sejuk, dan sangat menghargai kearifan lokal. Di tengah ancaman radikalisme yang mencoba memutus akar budaya Islam dari tanah airnya, kehadiran buku ini menjadi sangat krusial sebagai benteng pertahanan ideologi.

Kesimpulannya, Syaikh Ahmad Mutamakkin adalah simbol dari kemenangan dakwah yang menggunakan pendekatan cinta dan budaya. Beliau membuktikan bahwa Islam tidak datang untuk menghancurkan tradisi yang sudah ada, melainkan untuk menyempurnakannya. Membaca buku ini adalah sebuah perjalanan spiritual sekaligus intelektual untuk menemukan kembali wajah Islam Nusantara yang ramah, moderat, dan inklusif. Sebuah wajah Islam yang kita butuhkan untuk masa depan Indonesia dan dunia yang lebih harmonis.

Dengan segala kedalaman isinya, buku ini layak ditempatkan di rak utama perpustakaan-perpustakaan pesantren, kampus, maupun rumah tangga Muslim. Ia adalah warisan berharga yang mengingatkan kita bahwa sejauh mana pun kita melangkah menuju masa depan, kita tidak boleh melupakan akar sejarah yang telah membentuk jati diri kita hari ini. Perjuangan Syaikh Ahmad Mutamakkin belum berakhir; semangatnya kini berpindah ke tangan generasi muda yang siap melanjutkan estafet dakwah Aswaja An-Nahdliyyah di era digital.

#SyaikhAhmadMutamakkin #AswajaAnNahdliyyah #DakwahKultural #IslamNusantara #SejarahUlamaPati

Bagikan:

Posted inLiterasi & Dunia BukuPesantren & Keislaman